Berubahnya Pola Pikir Warga
Bukan hanya pejabat pemerintahan, ternyata warga Ayamaru di Kab. Sorong Selatan, Irian Jaya Barat (Irjabar) pun paham betul apa itu kolektibilitas. Hal itu nampak setelah mereka belajar dan bekerja bersama program. “Sebuah perubahan yang sungguh mengagumkan,” ungkap Linda AC, Spesialis Pengaduan & Penanganan Masalah (SP2R) kala itu, awal Juni 2006.
Beberapa waktu sebelumnya, Linda bersama rekan spesialis lainnya, melakukan misi supervisi ke wilayah tersebut. Dari Jakarta, mereka harus ke Sorong, dan dari Sorong masih harus melanjutkan perjalanan ke Sorong Selatan dengan pesawat kecil DC 9. Karena kecilnya ukuran pesawat itu, DC 9 kerap diplesetkan menjadi “Diisi sembilan”. Meski membuat mual-mual, namu perjalanan ke Sorong Selatan menyisakan banyak cerita menarik, selain sambutan dan antusiasme Tim Koordinasi dan warga disana.
Pada kunjungan ke desa-desa, program ini nampaknya sudah sangat dikenal oleh masyarakat, terutama oleh warga Kecamatan Ayamaru. Hal itu tak lepas dari peran Fasilitator Kecamatan (FK) dalam menyosialisasikan program. Sebuah fakta bahwa FK cukup aktif dalam membantu sosialisasi, warga disana sangat familiar dengan istilah-istilah “asing” seperti transparansi, akuntabilitas, desentralisasi, dan kolektibilitas.
Dalam sebuah kesempatan, Linda dan warga sempat menonton televisi dengan program yang menampilkan penjelasan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie (kini menjabat sebagai Menko Kesra, red). Sang Menteri sedang berbicara mengenai kolektibilitas. Tanpa diduga, beberapa warga yang turut menyaksikan program itu berujar, “Bukan cuma Pak Meteri, kami juga tahu apa itu kolektibilitas…,” ungkap mereka bersahutan. Tentu saja, peristiwa itu sangat mengejutkan. Ada perasaan gembira dan haru, kini pengetahuan warga disana kian bertambah.
Tak hanya itu, disana pun ada keluarga pejuang program: suami-istri keluarga itu merupakan orang-orang yang sangat peduli akan program. Sang istri, Blandina Kambuaya, yang kala itu menjabat Kasi PMD di kecamatan, menjadi Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PjOK), sementara Sang suami, Sonny Bless, mantan Kepala Distrik Ayamaru, menjadi anggota DPRD yang sangat aktif mengapanyekan pentingnya program pemberdayaan masyarakat, terutama PPK (kini menjadi PNPM Mandiri Perdesaan). Tak heran kalau dewan akhirnya menyetujui anggaran untuk pelaksanaan program di kabupaten itu.
Cerita menarik lainnya dipaparkan oleh Yohan Naa, FK Teknik di Ayamaru. Menurutnya, disana ada sebuah desa, bernama Kampung Seia, yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama tiga jam. Jalannya berawa dan dihuni lintah. Tak ada aparat yang berani berkunjung, sehingga desa ini sangat tertinggal. Namun berbeda dengan pelaku program, mereka rela melakukannya. “Rasa lelah kami segera berakhir karena begitu sampai kampung, warga sudah menyambut kami dan menyediakan daun gatal untuk membalur kaki kami yang pegal dan sakit karena gigitan lintah. Kalau tidak begini, Seia tak akan pernah berkembang,” ungkap Yohan. Sungguh mengharukan.
Berkat perjuangan keras para pelaku program, ditambah partisipasi dan dukungan warga, kini Kampung Seia yang tadinya gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Usulan warga yang mengajukan pembelian mesin Genset untuk penerangan listrik mendapat prioritas pendanaan program dan sangat bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar