Dusun Neraka Kini Lebih Padat
Di Kecamatan Tanimbar Selatan, Kab. Maluku Tenggara, Maluku, ada sebuah dusun yang “Gunawan” alias gundul tapi menawan. Pemandangan laut dari dusun ini sungguh indah, namun tanahnya begitu tandus dan berkarang. Di dusun ini, sulit sekali untuk mendapatkan air bersih. Untuk keperluan minum dan mandi sehari-hari, masyarakat harus berjalan berkilo-kilo meter. Masuk akal kalau masyarakat menamai dusun mereka sebagai Dusun Neraka.
Bukan karena soal air, namun tradisi disana pun menyiratkan sebutan tersebut. Salah satunya, sifat keras warga dan kurang bersahabat. Disana, jika ada yang meninggal di dusun, maka jenazah akan dibawa jauh keluar dari desa untuk “dikebumikan”. Karena itu, jarang ada warga yang berkunjung ke dusun tersebut bila tidak memiliki kepentingan yang sangat mendesak. Warga disana pun dapat dihitung dengan jari. Tak heran bila hingga 2004, kondisinya masih tertinggal.
Namun kondisi itu berangsur-angsur berubah setelah program masuk ke kecamatan Tanibar Selatan, pertengahan 2004. Masyarakat menyambut program ini dan tak menyia-nyiakannya. “Ini program utusan” ujar seorang warga dari Olilit Barat bersemangat. Kini, masalah air dapat teratasi. Masyarakat menyetujui pembangunan lima unit sumur dan empat unit bak penampung yang dihubungkan pipa sepanjang 5000 meter. Sejak saat itu, semakin banyak orang luar yang berkunjung ke Dusun Neraka, bahkan semakin padat. “Mari basudara dong, kita tinggal sama-sama di neraka, biar tambah reme lagi ma…,” ujar masyarakat dengan dialek neraka-nya.
“Semoga dengan hadirnya PPK, Dusun Neraka akan berubah menjadi dusun idaman,” ujar seorang tokoh agama disana. Dan juga penuh berkah… Amien! Kiriman: Petro Umbantu Lomi, Supporting Staff KM-Kab Maluku Tenggara
Bukan karena soal air, namun tradisi disana pun menyiratkan sebutan tersebut. Salah satunya, sifat keras warga dan kurang bersahabat. Disana, jika ada yang meninggal di dusun, maka jenazah akan dibawa jauh keluar dari desa untuk “dikebumikan”. Karena itu, jarang ada warga yang berkunjung ke dusun tersebut bila tidak memiliki kepentingan yang sangat mendesak. Warga disana pun dapat dihitung dengan jari. Tak heran bila hingga 2004, kondisinya masih tertinggal.
Namun kondisi itu berangsur-angsur berubah setelah program masuk ke kecamatan Tanibar Selatan, pertengahan 2004. Masyarakat menyambut program ini dan tak menyia-nyiakannya. “Ini program utusan” ujar seorang warga dari Olilit Barat bersemangat. Kini, masalah air dapat teratasi. Masyarakat menyetujui pembangunan lima unit sumur dan empat unit bak penampung yang dihubungkan pipa sepanjang 5000 meter. Sejak saat itu, semakin banyak orang luar yang berkunjung ke Dusun Neraka, bahkan semakin padat. “Mari basudara dong, kita tinggal sama-sama di neraka, biar tambah reme lagi ma…,” ujar masyarakat dengan dialek neraka-nya.
“Semoga dengan hadirnya PPK, Dusun Neraka akan berubah menjadi dusun idaman,” ujar seorang tokoh agama disana. Dan juga penuh berkah… Amien! Kiriman: Petro Umbantu Lomi, Supporting Staff KM-Kab Maluku Tenggara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar